Makalah Landasan Pendidikan


“ FAKTUAL PENDIDIKAN DI INDONESIA “


MAKALAH
LANDASAN PENDIDIKAN





Disusun Oleh :
Novi Sari Rahmatiyas : NPM. 09232432


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI BIOLOGI
UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA
2009


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya penulis sanggup menuntaskan Karya Tulis ini dengan judul Faktual Pendidikan di Indonesia.
Shalawat serta salam tercurahkan kepada paduka alam Habibana Wanabiyana Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat serta umatnya dan senantiasa setia hingga simpulan zaman.
Makalah ini dibentuk sebagai salah satu syarat mengikuti Pembelajaran Mata Kuliah Landasan Pendidikan Di Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Imu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya Tahun Akademik 2009/2010.
Pada kesempatan ini penulis penulis ingin memberikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang sudah berusaha keras memperlihatkan bimbingan dan pertolongan baik moril maupun materil serta do’a dalam penyusunan Karya Tulis ini.
Penulis menyadari Karya Tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan baik isi maupun bentuk penulisannya, lantaran keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh lantaran itu penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini. dengan segala kerendahan hati skripsi ini sanggup bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Tasikmalaya, 22 November 2009
Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………... ii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang ……………………………………………….. 1
1.2 Tujuan Penulisan Ilmiah ……………………………………… 2
BAB II LANDASAN TEORITIS …………………………………………... 3
2.1 Faktual ……………….. ……………………………………… 3
2.2 Pendidikan …………… ……………………………………… 3
2.3 Faktual Pendidikan di Indonesia ……………………………... 4
BAB III PEMBAHASAN ………….. ……..………………………………….. 5
3.1 Sistem Pendidikan di Indonesia ketika ini .…………………….. 5
3.2 Solusi Permasalahan Melalui Pendekatan Agama …………… 7
3.3 Solusi Permasalahan Melalui Peningkatan Kualitas Anak didik dan Pendidik…………………………………………….. 8
3.4 Solusi Permasalahan Melalui Program Terpadu ……………... 8
BAB IV SIMPULAN ……..…………. ……………………………………… 11

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Dasar Pemikiran
Bagi murid guru merupakan sosok yang sangat mulia, kehadirannya selalu menjadi penerang bagi semua anak didiknya. Dulu, profesi guru tidak banyak diminati oleh masyarakat, mereka lebih tertarik menjadi dokter, tentara maupun pengusaha.
Tapi sekarang, dengan adanya global crisis yang melanda semua Negara di dunia termasuk di Negara kita Indonesia, profesi ini menjadi salah satu profesi yang cukup menjanjikan. Namun dengan perkembangan yang pesat ini seharusnya kualitas guru pun jadi meningkat bersamaan dengan naiknya undangan pasar.
Peran guru beberapa tahun yang kemudian bukan hanya sekedar mengajarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebagai sebuah keahlian tetapi juga turut mendidik murid menjadi seorang yang cerdas, sopan santun dan berakhlak mulia. Akhir-akhir ini sering terdengar banyak keluhan dari beberapa orangtua murid mengenai kiprah guru sekolah yang kurang berkualitas.
Itu disebabkan dengan mendesaknya kebutuhan ekonomi keluarga sehingga mereka kurang memperhatikan tanggung jawab guru yang sebebnarnya. Saya pikir hal ibarat ini sangat menyedihkan. Kata mengajar mempunyai arti memperlihatkan pengetahuan yangmereka miliki terlebih dulu kepada para muridnya sehingga mereka bisa mengerti.
Kata mendidik, mempunyai makna yang lebih dalam lantaran selain guru mempunyai kiprah untuk mengajar tapi mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan anak muridnya menjadi seorang insan yang lebih berbudi luhur. Menurut saya hal itu ialah nilai tambah yang sangat mulia untuk profesi guru.
Beberapa survey menyampaikan bahwa banyak orang menentukan profesi guru hanya sebagai pelampiasan atau jalan alternative mencari nafkah saja. Hal ini juga lebih menyedihkan bagi kita sebagai orangtua murid. Guru semacam inilah yang berbahaya, lantaran mereka tidak bisa membentuk aksara dan mencerdaskan anak didiknya, tetapi mereka malah cenderung menguras harta negara.
Disamping itu, demi terisinya mata pelajaran, kini ini dari pihak sekolah sering kali salah kamar dalam menempatkan posisi guru sebagai pemegang mata pelajaran. Hal itu menjadi lantaran utama rapuhnya pendidikan bangsa ini, lantaran kurangnya profesionalitas tenaga pengajar.
Berbagai hal fakta yang terjadi pada Realita Pendidikan di Indonesia ini lah yang menjadi landasan kami untuk mengkaji permasalah yang tertuang dalam sebuah Karya Tulis yang berjudul “ Faktual Pendidikan di Indonesia “ ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Penulisan arya Tulis bertujuan untuk :
- Menemukan fakta yang benar-benar terjadi pada Sistem Pendidikan di Indonesia
- Menarik sedikit Solusi Pemecahan Permasalahan dan Mempaparkannya sesuai dengan permalahan yang terjadi
- Sebagai Salah Satu Syarat Kegiatan Perkualiah Mata Kuliah Landasan Pendidian Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.


BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengertian Faktual
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Faktual sanggup diartikan sebagai hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.atau juda bias diartikan sebagai sesuatu hal yang menurut kenyataan; mengandung dan kebenaran.

2.2 Pengertian Pendidikan
Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah referensi pikir pendidik, dari referensi pikir yang awam dan kaku menjadi lebih moderan. Hal tersebut sangat besar lengan berkuasa dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan konsep dan teori pendidikan yang bahwasanya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan dibutuhkan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai adat dan kecerdasan pikiran.
Menurut bahasa Yunani : pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata "paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing "sehingga " pedagogi" sanggup di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak".
Menurut UU No.20 tahun 2003 perihal sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan ialah perjuangan sadar dan berkala untuk mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran biar akseptor didik secara aktif menyebarkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, adat mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Wikipedia, Pendidikan ialah perjuangan sadar dan berkala untuk mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran biar akseptor didik secara aktif menyebarkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, adat mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya dan masyarakat.
Dari pernyataan diatas sanggup di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan ialah perjuangan sadar dan berkala untuk mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran atau training biar akseptor didik secara aktif sanggup menyebarkan potensi dirinya supaya mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, adat mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya dan masyarakat.
2.3 Pengertian Faktual Pendidikan di Indonesia
Berdasarakan Pengertian Pengertian diatas sanggup ditarik kesimpulan bahwa factual Pendidikan di Indonesia sanggup diartikan sebagai Realita Kebenaran yang terjadi pada wajah suasana berguru dan proses pembelajaran atau training akseptor didik di Negara Indonesia.



BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sistem Pendidikan di Indonesia ketika ini
Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor perihal kurikulum baru.Yang katanya lebih bagus, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, Menteri Pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan gres dengan mengubah kurikulum. Agak miris lihat kondisi ketika ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya ibarat pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memperlihatkan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, sanggup ijazah, bolos longgar wa ‘ala alihi. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme ibarat itu. Ki Hajar Dewantoro mungkin bisa menangis melihat kondisi pendidikan ketika ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di Undang-Undang Dasar 45), tapi lebih ibarat mesin lama yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.
Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" ketika ini. Apalagi dengan pengoptimalan pada SMK. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena referensi pikir "buruh"lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata: IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang dibutuhkan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.
Sudah diam-diam umum kalau pendidikan kini sangat mahal. Seperti kata buku, orang miskin dihentikan sekolah! Memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya. Masuk Taman Kanak-kanak saja bisa mencapai ratusan ribu maupun jutaan rupiah, belum lagi kalau masuk SD-SMP-SMA-Universitas yang favorit. Kalau dihitung, seseorang yang masuk Taman Kanak-kanak hingga dengan universitas yang favorit akan menghabiskan 100 juta lebih. Wow! Apalagi dengan adanya kampus BHMN ibarat UI, IPB, UGM, Unair dan lain-lain.
Sekolah memang harus mahal, itulah stigma yang tertanam di benak sebagian orang, dari orang awam dan bahkan hingga beberapa pejabat Depdiknas. benarkah demikian??? Itu ialah opini yang salah tempat, mereka yang bicara ngelantur begitu sudah niscaya tidak pernah lihat kondisi luar. Malaysia, Jerman, bahkan Kuba sekalipun bisa menciptakan pendidikannya sangat murah dan sanggup diakses oleh sebagian besar lapisan masyarakatnya. Dalam sistem pendidikan Indonesia yang baru, pemerintah akan membagi jalur pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar/ reguler dan jalur formal mandiri/ Non reguler. Jalur formal sanggup berdiri diatas kaki sendiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu.
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia ketika ini memang ialah sistem pendidikan yang sekular-materialistik.
Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka tabiat sekular-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak terang pada hilangnya nilai-nilai islam pada semua proses pendidikan. Pendidikan materialistik memperlihatkan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-materi. Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah sanggup mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu sanggup berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai bahan yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Hukum syara’ islam dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan.
Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut bahwasanya hanyalah merupakan belahan belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja dipakai untuk menata banyak sekali bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah banyak sekali bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, sikap politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistic
Lantas bagaimana dengan visi dan misi pendidikan di Indonesia? Mau dibawa ke mana pendidikan di Negara kita? Apakah pendidikan sudah menjadi barang dagangan yang nantinya menghasilkan output berupa selembar sertifikat dan ijazah bukannya keahlian dan daya analisis? Dan apakah pendidikan hanya menjadi milik dan hak orang kaya saja? Atau Apakah memang orang miskin dihentikan sekolah? Lalu bagaimana caranya biar pendidikan bisa murah??

3.2 Solusi Permasalahan Melalui Pendekatan Agama

Pendidikan ialah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar kurikulum (mata aliran dan metode pengajaran) yang diberlakukan oleh negara. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan penilaian pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syari’at Islam pada akseptor didik, walaupun mungkin menciptakan akseptor didik menguasai ilmu pengetahuan. Aqidah Islam menjadi asas dari ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti semua ilmu pengetahuan yang dikembangkan harus bersumber pada kepercayaan Islam, lantaran memang tidak semua ilmu pengetahuan lahir dari kepercayaan Islam. Yang dimaksud adalah, aqidah Islam harus dijadikan standar penilaian

3.3 Solusi Permasalahan Melalui Peningkatan Kualitas Anak didik dan
Pendidik
Bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan kualitas guru demi tercapainya kualitas sumber daya insan yang tinggi, yang sedang mereka bimbing kini ini. Ada cara-cara sebagai berikut :
1. Pemerintah diharapkan sanggup meningkatkan perhatiannya pada kasus pendidikan bangsa ini, lantaran tanpa pertolongan pemerintah siapapun yang berusaha untuk mengubah keadaan tidak akan mendapat hasil yang baik
2. Perbanyak aktivitas beasiswa yang berkualitas untuk mendapat guru yang berkualitas tinggi.
3. Pendapatan guru wajib ditingkatkan terutama mereka yang telah rela mengajar murid sekolah di banyak sekali daerah terpencil
4. Penghargaan dan perhatian sekecil apapun pada para guru akan menyentuh hati mereka untuk lebih mengasihi anak didiknya, sehingga secara otomatis guru akan memperlihatkan perhatian lebih pada para murid
Ada baiknya mulai kini sebagai orangtua mulai lebih memperhatikan keberadaan seorang guru, lantaran merekalah anak kita bisa menjadi insan yang lebih mempunyai kegunaan di masa depan.
3.1 Solusi Permasalahan Melalui Program Terpadu
Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibentuk sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.
Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan duduk kasus di tengah-tengah masyarakat ibarat terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Pada ketika yang sama, situasi masyarakat yang jelek terang menciptakan nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum.
Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas sanggup menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap jenjangnya. Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga PT, muatan tsaqâfah Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik menurut jenjang pendidikannya masing-masing.
Pada tingkat dasar atau menjelang usia balig (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.
Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan abnormal sanggup disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, sanggup diperkenalkan kepada kaum Muslim sehabis mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.
Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan, dan mempunyai keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan mudah serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Ketiga hal di atas merupakan sasaran yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan

BAB IV
SIMPULAN
Dalam perjalanannya proses pembangunan ekonomi membutuhkan sumber daya pendidikan yang berkualitas tinggi.
Oleh lantaran itu diputuskan untuk mengadakan pembaruan secara menyeluruh terhadap peranan pendidikan. Tetapi sejauh ini, perjuangan yang mengarah kesana masih belum mencapai sasaran yang tinggi.
Sebab dari belum seimbangnya peranan pendidikan Indonesia dalam proses pembangunan bangsa ialah lantaran penentu kebijakan dalam hal ini pemerintah masih belum menyatu dalam mewujudkan peranan pendidikan yang sanggup mendongkrak kemajuan pembangunan ekonomi bangsa.
Problem-problem pendidikan kita semakin kompleks dan semakin sarat dengan tantangan. Kebijakan dan program-program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, nampak tidak memberi balasan solutif terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan yang berkembang.
Dibutuhkan suatu reformasi pendidikan untuk sanggup memperbaharui semua system pendidikan dan peranannya terhadap pembangunan bangsa ini. Waktu yang dibutuhkan tidaklah singkat.
Perlu pengorbanan dan kesediaan dari semua pihak yang terkait, ibarat pemerintah, instansi pendidikan, kementrian pendidikan dan pelaksana pendidikan Indonesia. Reformasi pendidikan juga harus memperlihatkan peluang bagi siapapun untuk menyebarkan langkah atau cara gres dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Reformasi pendidikan intinya mempunyai tujuan biar pendidikan sanggup berjalan lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pendidikan nasional Indonesia.
Pemerintah dan masyarakat harus mau berafiliasi demi tercapainya kualitas pemberdayaan insan yang diinginkan. Agar sesuai dengan perkembangan jaman, system pendidikan harus disesuai pula dengan tuntutan yang paling terkini.
Ada beberapa langkah gres untuk melaksanakan rekonstruksi pendidikan dalam rangka membangun paradigma gres system pendidikan ketika ini , ibarat berikut ini :
1. Membuat visi pendidikan Indonesia yang gres sehingga semua komponen masyarkat sanggup diberdayakan secara luas
2. Misi pendidikan yang terang untuk menciptakan masyarakat ikut berpartisipasi aktif di dalamnya.
3. Mengembangkan potensi dan kreatifitas pembelajaran
4. Pengembangan system pembelajaran yang demokratis biar tidak terdapat suatu pengelompokkan pengajaran.
5. Kebijakan kurikulum seharusnya diubahsuaikan dengan lingkungan serta komponen bangsa yang lain ibarat ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, seni, social dan agama.

Jika langkah-langkah ini sanggup direalisasikan maka Pendidikan Indonesia akan mempunyai impian untuk menuju kehidupan berbangsa yang lebih berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Abu dan Tri Prasetyo Joko. (1997). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Balai Pustaka Setia.
Depdiknas. (2001) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
Jalaludin. (2004) Psikologi Agama, Jakarta : Rajawali Pres.
Soeharto. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Indah.
Materi B.Indo : Definisi & Pengertian Arti Kata D - F ( Glosarium Mini )

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel